” Siapa Orang yang Paling Cerdas “

Betap sulitnya menjaga hati agar tetap selalu bersih dan tunduk kepada Allah Subhanahu Wataala, tidak terasa setiap detik yang kita lalui Nikmat Allah selalu mengiringi kehidupan kita, Subhanallah…begitu agung dan maha pengasihnya Allah  kepada kita,..Allah tidak melihat perbuatan maksiat yang kita lakukan akan tetapi Nikmat Allah tidak pernah putus kepada kita..setiap hari kita semakin menikmati setiap maksiat yang kita lakukan…karena kita merasa kita akan hidup seribu tahun lagi, sehingga kita menyangka masih panjang jalan untuk bertaubat…hati kita selalu dihiasi dengan kemewahan dunia, waktu kita selalu sibuk dengan dunia dan pada akhirnya kita lupa akan akhirat kita…kita lupa bahwa kematian sudah dekat dan lebih dekat dari urat leher kita

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

Iman kita bukan imannya para sahabat Rasulullah, ketika kita bangkit dan kita jatuh lagi, lalu bangkit lagi , lalu iblis dan bala tentaranya tidak tinggal diam, sehingga kita jatuh lagi dalam dosa dan maksiat, inilah ujian Allah yang mengandung hikmah yang luar biasa sehingga seseorang tidak bisa sombong dengan Hajinya, seseorang tidak bisa sombong dengan Puasa dan sholatnya…kita adalah makhluk yang lemah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Izin Allah, maka doa dan permohonan kepada Allah menjadi benteng agar kita selalu istiqomah menuju taubat Nasuha.

Maka itulah ketika Rasulullah Saw ditanya, siapakah orang yang sebenarnya paling cerdas, beliau menjawab,
الكيس من دان نفسه, وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع هواها وتمني على الله الأماني (رواه الترمذي)
Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan (Tuulul ‘amal).
Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”. Lalu bertanya lagi, ‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Sahabat jika kematian adalah kepastian yang datang nya dari Allah, maka mengapa kita disibukkan  dengan sesuatu yang belum pasti ketetapannya ? , kita selalu takut dengan masa depan kita, kita selalu takut dengan hari tua kita,..padahal banyak saudara kita dipanggil oleh Allah pada saat usia masih muda, bahkan yang masih berdada didalam kandungan sekalipun Allah panggil dengan ketetapanya yang telah tertulis di lauh Mahfuz? sungguh ini adalah pelajaran bagi orang yang mau berfikir, alangkah malunya kita Kepada Allah, ketika dikabarkan kepada kita tentang kengerian azab api Neraka akan tetapi peringatan itu tidak ubahnya seperti cerita didalam dongeng, tidak ada ketakutan, tidak ada pengharapan, tidak ada kecintaan, inilah gambaran nyata kehidupan kita, semoga Allah subhanhuwataala selalu membuka pintu hidayah kepada kita semua.

//

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s