setiap ucapan akan masuk catatan amal

4 Komentar // 4 November 2012
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.
Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)
Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)
Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?
Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.
Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.
Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.
Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.
Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?
Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)
Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”
Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.
Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Referensi:
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.
Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11
Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.

Faedah Tafsir di Malam Kelima Ramadhan, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul

Diposkan oleh di 00.03 Tidak ada komentar:

//

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

fiqih dan muamalah

Arsip untuk Kategori “Fiqh dan Muamalah”

Profesi Pengemis

Kategori:

4 Komentar // 12 Januari 2013

Begitu banyak saat ini yang menjadikan mengemis sebagai profesi. Padahal ia masih muda dan bisa memikul beras, tapi karena dasar pemalas, jadinya mengemis dijadikan jalan mudah. Karena menengadahkan tangan, maka secarik kertas rupiah didapat. Padahal profesi pengemis adalah profesi yang tercela. Bekerja Keraslah Islam sendiri memerintahkan pada kita untuk bekerjaBaca lebih lanjut…

Polemik Khitan Wanita

Pembahasan khitan bagi wanita memang menjadi polemik. Ada yang pro, namun tidak sedikit pula yang kontra. Bagaimana sebenarnya kedudukan khitan wanita dalam pandangan Islam dan  juga tinjauan medis? Insya Allah Anda akan temukan jawabannya dalam artikel ini. Khitan bagi Wanita Termasuk Syariat Islam[1] Terdapat silang pendapat di kalangan para ulamaBaca lebih lanjut…

Perkara Mubah Dengan Niat Ibadah

Kategori:

1 Komentar // 22 Desember 2012

Alhamdulillah wa Shalatu wa Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa As-habihi Ajma’in. Amma ba’du, Masalah niat adalah masalah yang sering kita perbincangkan, karena ia adalah masalah yang sangat pokok dalam agama kita. Dengan niatlah sebuah amalan dapat menjadi amalan yang pahalanya dapat sebesar Gunung Uhud dan demikian pula sebaliknyaBaca lebih lanjut…

Panduan Makanan (4): Masih Ragu Haramnya Anjing

Kategori:

3 Komentar // 12 Desember 2012

Sebagian orang atau kalangan masih meragukan haramnya anjing. Alasannya, karena tidak ada dalil larangannya dalam Al Qur’an. Karena dalam Al Qur’an makanan yang diharamkan itu dibatasi hanya empat. Selain itu berarti halal. Sehingga jika ada hadits yang datang mengharamkan suatu makanan atau hewan, maka hadits tersebut tertolak karena bertentangan denganBaca lebih lanjut…

Panduan Makanan (3): Makanan yang Diharamkan dalam Hadits Nabawi

Kategori:

1 Komentar // 10 Desember 2012

Setelah kita mengetahui berbagai makanan yang diharamkan, kita akan melihat beberapa hewan yang diharamkan dalam hadits Nabawi. Karena pegangan kita pun adalah dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada hukum tersendiri mengenai makanan yang tidak disebutkan dalam Al Qur’an namun disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca lebih lanjut…

Panduan Makanan (2): Makanan yang Diharamkan dalam Al Qur’an

Kategori:

7 Komentar // 8 Desember 2012

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Sebelumnya, kita telah melihat bagaimana pengaruh makanan haram pada seorang muslim. Setelah mengetahui hal tersebut, maka berarti kita penting mengetahui apa saja makanan yang diharamkan. Kita mulai dengan pendalilan dari Al Qur’an mengenai hal ini. Setelah ituBaca lebih lanjut…

Dari artikel ‘Fiqh dan Muamalah — Muslim.Or.Id

//

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

” Siapa Orang yang Paling Cerdas “

Betap sulitnya menjaga hati agar tetap selalu bersih dan tunduk kepada Allah Subhanahu Wataala, tidak terasa setiap detik yang kita lalui Nikmat Allah selalu mengiringi kehidupan kita, Subhanallah…begitu agung dan maha pengasihnya Allah  kepada kita,..Allah tidak melihat perbuatan maksiat yang kita lakukan akan tetapi Nikmat Allah tidak pernah putus kepada kita..setiap hari kita semakin menikmati setiap maksiat yang kita lakukan…karena kita merasa kita akan hidup seribu tahun lagi, sehingga kita menyangka masih panjang jalan untuk bertaubat…hati kita selalu dihiasi dengan kemewahan dunia, waktu kita selalu sibuk dengan dunia dan pada akhirnya kita lupa akan akhirat kita…kita lupa bahwa kematian sudah dekat dan lebih dekat dari urat leher kita

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

Iman kita bukan imannya para sahabat Rasulullah, ketika kita bangkit dan kita jatuh lagi, lalu bangkit lagi , lalu iblis dan bala tentaranya tidak tinggal diam, sehingga kita jatuh lagi dalam dosa dan maksiat, inilah ujian Allah yang mengandung hikmah yang luar biasa sehingga seseorang tidak bisa sombong dengan Hajinya, seseorang tidak bisa sombong dengan Puasa dan sholatnya…kita adalah makhluk yang lemah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Izin Allah, maka doa dan permohonan kepada Allah menjadi benteng agar kita selalu istiqomah menuju taubat Nasuha.

Maka itulah ketika Rasulullah Saw ditanya, siapakah orang yang sebenarnya paling cerdas, beliau menjawab,
الكيس من دان نفسه, وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع هواها وتمني على الله الأماني (رواه الترمذي)
Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan (Tuulul ‘amal).
Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”. Lalu bertanya lagi, ‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Sahabat jika kematian adalah kepastian yang datang nya dari Allah, maka mengapa kita disibukkan  dengan sesuatu yang belum pasti ketetapannya ? , kita selalu takut dengan masa depan kita, kita selalu takut dengan hari tua kita,..padahal banyak saudara kita dipanggil oleh Allah pada saat usia masih muda, bahkan yang masih berdada didalam kandungan sekalipun Allah panggil dengan ketetapanya yang telah tertulis di lauh Mahfuz? sungguh ini adalah pelajaran bagi orang yang mau berfikir, alangkah malunya kita Kepada Allah, ketika dikabarkan kepada kita tentang kengerian azab api Neraka akan tetapi peringatan itu tidak ubahnya seperti cerita didalam dongeng, tidak ada ketakutan, tidak ada pengharapan, tidak ada kecintaan, inilah gambaran nyata kehidupan kita, semoga Allah subhanhuwataala selalu membuka pintu hidayah kepada kita semua.

//

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar